Skip to content

Buah Simalakama Sebagai Penegak Hukum

ilustrasi google

Doa kami bagi para pembaca yang budiman:

اسّلام عليكم ورحمة اللّه وبركا ته

Semoga Allah melimpahkan keselamatan, rahmat dan keberkahan untukmu.
Ansar Ahmad – Marlin Agustina

By Rendra Topan

Profesi penegak hukum merupakan profesi yang bergengsi, namun mempunyai risiko yang tinggi juga. Dikatakan demikian karena profesi inilah yang melaksanakan penegakan hukum terhadap pelanggaran ketentuan peraturan perundang-undangan.

Peraturan perundang-undangan merupakan norma tertulis yang berisikan perintah dan larangan terhadap suatu hal di dalam kehidupan bermasyarakat,yang apabila bila dilanggar akan mendapat hukuman atau sanksi.

Indonesia sebagai suatu Negara yang menganut paham “trias politika”, yaitu paham dimana kekuasaan Negara itu terdiri dari legislatif, eksekutif dan yudikatif. Legislatif yaitu kekuasaan yang berhubungan dengan pembuatan peraturan, eksekutif adalah kekuasaan yang melaksanakan peraturan dan yudikatif yaitu kekuasaan untuk penegakan hukum dari peraturan telah dibuat dan dilaksanakan.

Terpisahnya tiga kekuasaan tadi diharapkan dapat menciptakan pemerintahan yang profesional dalam melayani kepentingan rakyatnya dan bersih dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Namun begitu, pada saat ini kondisi yang diharapkan masih dapat dikatakan jauh dari cita-cita, sehingga pemerintah pun membentuk satu lembaga untuk memberantas korupsi, kolusi dan nepotisme.

Dalam hal penegakan hukum tentunya banyak faktor yang dapat menghambat proses penegakan hukum itu sendiri. Penulis mengelompokan faktor-faktor tersebut menjadi dua, yaitu:

  1. Faktor sumber daya manusia.
  2. Faktor peraturan itu sendiri.

Faktor Sumber Daya Manusia

Dari kedua faktor di atas, menurut hemat penulis bahwa yang terpenting adalah faktor sumber daya manusianya, karena pembuat peraturan dan yang melaksanakan peraturan itu adalah manusia. Untuk itu diperlukan sebuah konsep untuk pengembangan sumber daya manusia.

Pengembangan sumber daya manusia ini tidak hanya sebatas pada teori-teori tentang pengembangan sumber daya manusia, tapi yang terpenting adalah teori keagamaan yang menumbuhkan iman dan takwa di dalam jiwa manusia dan membentuk manusia mempunyai kepribadian yang baik.

Agama merupakan peraturan yang dibuat oleh Tuhan sebagaimana tertulis dalam kitab suci, dimana Tuhan adalah pencipta dan pemilik alam semesta ini, sudah barang tentu Tuhan menghendaki alam dan seisinya patuh dan taat kepada-Nya. Bagi umat yang beriman pastinya percaya apabila terjadi pelanggaran terhadap hukum Tuhan, maka inilah yang dinamakan dosa yang sudah pasti akan mendapatkan hukuman dari Tuhan, dan perlu diingat bahwa Tuhan itu adalah hakim yang paling adil.

Faktor Peraturan itu Sendiri

Bagaimana dengan hukum yang dibuat manusia? Pertayaan ini timbul karena peraturan yang dibuat manusia, dilaksanakan oleh manusia dan apabila terjadi pelanggaran dihukum oleh manusia juga.

Idealnya peraturan yang dibuat manusia itu berpedoman pada nilai-nilai yang terkandung dalam kitab suci, sehingga dalam proses penegakan hukumnya tidak terjadi pergeseran nilai. Dengan kata lain, manusia yang melakukan penegakan hukum merupakan wakil Tuhan di dunia, karena sebelum manusia itu menerima hukuman dari Tuhan nantinya, terlebih dahulu sudah menerima hukuman dari sesama manusia.

Oleh karena itu manusia yang melakukan penegakan hukum harus bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak jarang manusia ini pun lupa dengan posisinya sebagai “wakil Tuhan”, masih saja berpikir untuk kepentingan sesaat di dunia, yaitu kepentingan harta dan tahta untuk mendapatkan penghormatan dan penghargaan hanya dari sesama manusia.

Menjadi sulit memang saat mengikuti atau berpedoman pada hukum Tuhan, karena harta dan tahta yang diinginkan menjadi tidak tercapai (menurut pemikiran manusia yang kurang beriman), demikian juga sebaliknya saat mengikuti nafsunya untuk menguasai harta dan tahta, maka hukum Tuhan akan terabaikan. Pilihan seperti ini cukup sulit, yang akhirnya seperti makan buah simalakama, “dimakan ibu mati, tidak dimakan bapak yang mati”. Tapi tidak demikian halnya dengan orang yang beriman, dia percaya akan janji Tuhan.

Ada peribahasa yang mengatakan “siapa yang menanam angin, maka dia akan menuai badai”, hidup ini ini seperti “roda” selalu berputar. Tetaplah berbuat baik dengan penuh keikhlasan, kita manusia hanya bisa berencana, ketetapan ada pada Tuhan. (RenTo)(251018)

Donation/Sumbangan

Donate $5 to buy me a coffee, to support producing great content. Thank You/Donasikan $5 untuk membelikan saya kopi, guna mendukung pembuatan konten yang bagus. Terimakasih

$5.00

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: